Minggu, 04 Desember 2011

Cara Allah menjaga Dan Mewariskan Al-Qur'an

Setiap Agama di Dunia Ini masing-masing mempunyai kitab, Yang dianggap nya sebagi kitab suci :

Agama hindu                           Kitab weda
Agama Buddha                       Kitab tripitaka
Agama yahudi                         Kitab taurat    
Agama Nasrani                       Kitab injil
Penganut khong hu cu           Kitab tao tek cing
Agama Majusi                         Kitab (Zend Avesta Dan Dasatir)
Kitab orang kebatinan           Kitab Serat jentani/ Darmogandul
Sedangkan kita  umat islam  Oleh Allah Diberikan Kitab Al-Quran
Yang Akan kita bahas Dalam bahasan kali ini ialah:
Cara Allah menjaga Dan Mewariskan Al-Qur'an
Dalam Al-Qur'an surat Al-Hijr, surat ke 15 ayat ke 9, Allah Swt. berfirman:
 “ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”
Ayat di atas merupakan komitmen dan jaminan dari Allah Swt., bahwa Dia selain menurunkan dan mewahyukan Al-Quran, juga berkomitmen akan menjaga kemurniannya hingga Hari Kiamat.
Salah satu wujud komitmen-Nya, Allah Swt. menciptakan jutaan penghafal Alquran di seluruh dunia. Dengan cara seperti inilah Al-Qur'an tetap terjaga karena Al-Qur'an tersimpan dalam hafalan sebagian umat Islam sehingga seandainya seluruh mushaf Al-Qur'an yang ada di bumi ini hilang atau dibakar maka hal tersebut tidak akan berpengaruh banyak terhadap nasib Al-Qur'an ke depannya.
Itulah cara unik Allah Swt. dalam menjaga Al-Qur'an dengan membuatnya mudah dan bisa dihafalkan, walau oleh anak-anak sekalipun.
Salah satu peran penting lainnya yang menjadikan Al-Qur'an tetap terjaga adalah peran yang diajarkan oleh para guru ngaji/ustadz/kyai. Merekalah yang sedari awal menjadi cahaya yang menuntun umat dalam mengenal Al-Qur'an. Dimulai ketika kita mulai mengenal huruf hijaiyah, kemudian membaca Al-Qur'an, lalu membaca dengan tartil dan fasih, sampai menghafal ayat demi ayat.
Peran guru ngaji/ustadz/kyai dalam mengenalkan umat kepada Al-Qur'an memang sangat vital,penting karena dari merekalah dimulai estafet dalam memelihara kesucian Al-Qur'an.
banyak guru ngaji yang tidak membebankan anak-anak untuk 'membayar sedekah' rutin. Para guru ngaji di sini nantinya hanya akan menerima sedekah seikhlasnya saja, tidak pernah dipatok berapa dan juga tidak pernah dipatok harus kapan membayar sedekahnya. Boleh jadi mereka akan menerima seminggu sekali, sebulan sekali atau bahkan tidak sama sekali : Tapi mereka tidak pernah mempermasalahkan soal bayaran tersebut, mungkin dalam benak mereka cukuplah Allah Swt. yang kelak akan membayar semua jasa-jasa mereka. Coba kita renungkan betapa besarnya jasa mereka………..
Sungguh Allah Swt. sudah memberikan jaminan akan menjaga dan memelihara Al-Qur'an sampai akhir zaman dan salah satu caranya adalah tetap menjaga estafet pengajaran Al-Qur'an dari satu orang ke orang lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Rasulullah Saw banyak memiliki penulis yang menulis wahyu. Penulis wahyu dalam sejarah tercatat sebanyak 43 orang dimana yang paling terkenal adalah empat khalifah pertama, akan tetapi yang paling banyak di samping Rasulullah Saw (menuliskan wahyu) adalah Zaid bin Tsabit dan Ali bin Abi Thalib .
Jumlah penghafal al-Qur'an sedemikian banyaknya sehingga kita baca dalam sejarah pada satu peperangan pada masa kekhalifaan Abu Bakar 400 orang pembaca al-Qur'an yang terbunuh
Dari sini menjadi jelas bahwa para penghafal, pembaca dan pengajar al-Qur'an sedemikian banyaknya sehingga pada satu medan perang mereka semuanya mati syahid. Al-Qur'an bukanlah sebuah kitab apkiran yang diletakkan di sudut rumah atau masjid yang terlupakan karena lumuran debu sehingga ada seseorang yang mencoba untuk menambah atau menguranginya.

Banyak laporan yang menunjukkan bahwa di Pakistan terdapat kurang-lebih satu juta lima ratus orang penghafal al-Qur'an! Salah satu syarat untuk dapat diterima belajar di Universitas al-Azhar adalah menghafal seluruh al-Qur'an. menghafal al-Qur'an ini sudah ada semenjak masa Rasulullah Saw yang memerintahkan dan menekankan kepada kaum Muslimin di setiap masa untuk menghafal al-Qur'an sebagiamana hal ini dapat dijumpai pada banyak riwayat. Apakah, dengan kondisi seperti ini, masih tersisa kemungkinan bahwa al-Qur'an telah mengalami penyimpangan?
Dalil  Kemukjizatan al-Qur'an
Tantangan untuk menghadirkan semisal al-Qur'an:
 Allah Swt berfirman: " 
Qs.2:23. Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. “

Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (Qs. Al-Isra [17]:88)

Tantangan lain al-Qur'an terkait dengan tiadanya perbedaan dalam al-Qur'an, 
 "Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (Qs. Al-Nisa [4]:82)

TIGA JENIS MUSLIM PEWARIS ALQURAN
Dalam Al-Qur'an surat Faathir, surat ke 35 ayat ke 31-32 dan 33, Allah Swt. berfirman:

Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur'an) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.”

  Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikandengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.”

  (Bagi mereka) syurga 'Adn mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka didalamnya adalah sutera.”

MENGAPA ZHÂLIMUN LINAFSIHI DIDAHULUKAN PENYEBUTANNYA DALAM AYAT?
Para ulama telah mencoba menganalisa penyebabnya. Sebagian ulama berpendapat, supaya golongan pertama itu tidak mengalami keputus-asaan dari rahmat Allâh Ta'ala, dan golongan sâbiqun bilkhairat tidak silau dan terperdaya dengan amalan sendiri. Sebagian ulama lain menyatakan, alasan mendahulukan golongan zhâlimun linafsihi lantaran mayoritas penghuni surga berasal dari golongan itu. Sebab, orang yang tidak pernah terjerumus dalam perbuatan maksiat jumlahnya sedikit.

PELAJARAN DARI AYAT
1.      Tingginya kemuliaan umat Muhammad Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dengan memperoleh anugerah kitab Al-Qur‘an yang memuat kebenaran dan hidayah kitab Injil dan Taurat.
2.      Luasnya rahmat Allâh Ta'ala bagi umat Nabi Muhammad Shallallâhu 'Alaihi Wasallam
3.      Kaum muslimin terbagi menjagi tiga tingkatan dalam beramal.
4.      Pentingnya berlomba-lomba dalam kebajikan.
5.      Orang yang berbuat dosa selain kufur dan syirik tidak kekal di neraka.
6.      Penjelasan mengenai kenikmatan penghuni surga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar